Setelah menggali pengetahuan dari maestro, peserta memasuki tahap penciptaan naskah randai. Kaba yang sebelumnya hidup melalui tuturan mulai diterjemahkan menjadi kerangka cerita yang dapat dikembangkan untuk kebutuhan pertunjukan.
Proses dimulai dengan menentukan ide, tokoh, tujuan, dan konflik. Peserta kemudian menyusun urutan peristiwa serta dialog agar cerita memiliki arah yang jelas tanpa kehilangan hubungan dengan nilai budaya yang menjadi dasarnya.
Dalam randai, naskah perlu memberi ruang bagi gerak galombang, dendang, musik, dan silek. Karena itu, penyusunan cerita dilakukan dengan mempertimbangkan bagaimana setiap unsur dapat bertemu di dalam pertunjukan.
Latihan ini menjadi langkah penting agar komunitas mampu menciptakan karya secara mandiri, mendokumentasikan proses kreatif, dan meneruskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
